SAKSI BISU DARI LEGIAN ‼️ Menyingkap Tabir Perlawanan I Wayan Rembijok, Veteran Terakhir yang Menolak Tunduk pada NICA

LEGIAN, BALI | MATA NEGERI —

Di sebuah gang kecil di kawasan Legian yang kini riuh oleh wisatawan, duduk seorang pria senja dengan sorot mata yang masih memancarkan api perjuangan. Ia adalah I Wayan Rembijok, seorang veteran yang pada tahun 2025 ini telah genap berusia 104 tahun. Di balik keriput wajahnya, tersimpan memori kelam sekaligus heroik tentang hari-hari di mana tanah Legian tidak diinjak oleh turis, melainkan oleh sepatu lars serdadu Belanda.

PEMUDA 16 TAHUN DI GARIS DEPAN

Kisah Rembijok bukanlah dongeng pengantar tidur. Ia adalah bagian dari sejarah hidup perjuangan kemerdekaan di Bali. Ketika sebagian besar pemuda seusianya saat ini sibuk dengan gawai, Rembijok muda yang baru berusia belasan tahun sudah harus memegang senjata untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang baru saja diproklamasikan.

Ia tercatat sebagai salah satu pejuang yang aktif melakukan perlawanan terhadap agresi militer Belanda yang mencoba kembali menguasai Indonesia pasca-kekalahan Jepang. Bersama kelompok pejuang lokal di wilayah Badung, Rembijok terlibat dalam berbagai aksi sabotase dan penghadangan terhadap patroli tentara NICA (Netherlands Indies Civil Administration).

PERTEMPURAN DI BALIK BAYANG-BAYANG LEGIAN

Salah satu fragmen paling mendebarkan dalam kisahnya adalah pertempuran gerilya di pesisir selatan Bali. Rembijok mengenang bagaimana ia dan kawan-kawannya harus bersembunyi di semak belukar, memanfaatkan topografi alam untuk mengepung pasukan musuh yang memiliki persenjataan jauh lebih lengkap. Tanpa bantuan artileri berat, modal utama mereka hanyalah keberanian dan pengetahuan medan yang mumpuni.

“Dulu, kami tidak takut mati. Yang kami takutkan adalah melihat anak cucu kami kembali menjadi budak di tanah sendiri,” ungkapnya dalam sebuah kesempatan.

Dedikasinya ini membuatnya dikenal sebagai sosok yang tegar, bahkan saat rekan-rekan seperjuangannya satu per satu gugur di medan laga.

VETERAN TERAKHIR MENJAGA API YANG NYARIS PADAM

Hingga tahun 2025, I Wayan Rembijok diakui sebagai salah satu veteran tertua dan terakhir dari wilayah Legian yang masih menyaksikan langsung momen bersejarah transisi kekuasaan dari penjajah ke tangan rakyat Indonesia. Di masa tuanya, ia hidup dalam kesederhanaan, sebuah kontras yang tajam dengan gemerlap ekonomi kawasan wisata di sekeliling kediamannya.

Meski tubuhnya kini renta, Rembijok tetap menjadi simbol moral bagi warga lokal. Ia sering mengingatkan generasi muda agar tidak “malas” dan terus melanjutkan kemerdekaan dengan tindakan nyata bagi bangsa.

Kisah I Wayan Rembijok adalah pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia tidak diberikan secara cuma-cuma melalui meja diplomasi semata, melainkan dibayar dengan keringat dan darah para pemuda desa yang berani melawan kemustahilan. Di usianya yang ke-104, ia tetap berdiri sebagai monumen hidup dari sebuah era yang menolak untuk dilupakan.

PENGUAT SUMBER TERPERCAYA

Sebagaimana ditegaskan oleh Hj. Hagia Sophia, pemerhati sejarah dan sosial budaya, keberadaan veteran seperti I Wayan Rembijok merupakan bukti otentik sejarah perjuangan fisik rakyat Bali Selatan yang selama ini kerap luput dari narasi besar nasional. Menurutnya, kesaksian para veteran hidup adalah sumber sejarah primer yang wajib dijaga dan dihormati oleh negara dan generasi penerus.

 

Sumber:

Detik Bali: Kisah Hidup Veteran 102 Tahun di Legian (data disesuaikan dengan usia tahun 2025)

Unggahan Media Sosial Legian Terkini & Facebook Mahmuda Muhammad Zein

Arsip Veteran Republik Indonesia wilayah Bali Selatan

Keterangan Hj. Hagia Sophia

Penulis : Tim Redaksi

Editor : Kanda Ali

More From Author

Jejak Keteguhan Panglima Besar Sudirman di Tengah Tekanan Sekutu

KARTINI BALI ‼️ Jejak Senyap I Gusti Ayu Rapeg Melawan Gelapnya Kebodohan di Tanah Dewata

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *