JEJAK LANGKAH KOLONEL INF. WITARMIN DALAM OPERASI TRISULA

Blitar Selatan, medio 1968. Kabut tipis yang menyelimuti perbukitan gamping tidak mampu menyembunyikan ketegangan yang merayap di setiap jengkal tanah. Di balik rerimbunan hutan dan gua-gua gelap, sebuah babak krusial dalam sejarah militer Indonesia sedang ditulis. Di barisan terdepan, sosok Kolonel Inf. Witarmin berdiri sebagai arsitek lapangan yang menentukan hidup-mati sebuah operasi penumpasan sisa-sisa pemberontakan PKI pasca-G30S “OPERASI TRISULA”

Kolonel Witarmin, yang saat itu menjabat sebagai Komandan Korem 081/Dhirotsaha Jaya, memikul beban yang tidak ringan. Wilayah Blitar Selatan telah berubah menjadi “Safe House” bagi tokoh-tokoh penting Central Comitte (CC) PKI yang mencoba membangun kembali kekuatan dengan taktik Perang Rakyat Semesta (PRS). Geografi yang sulit, dipenuhi dengan tebing curam dan gua yang saling terhubung, menjadikan wilayah ini benteng alam yang nyaris mustahil ditembus tanpa strategi yang mumpuni.

STRATEGI PAGAR BETIS DAN KEHENINGAN RIMBA

Keberhasilan Kolonel Witarmin dalam Operasi Trisula bukan sekadar karena kekuatan senjata, melainkan kecerdikannya dalam mengintegrasikan kekuatan militer dengan rakyat. Beliau menerapkan taktik “Pagar Betis” yang legendaris, di mana ribuan warga sipil dilibatkan bersama prajurit untuk mengepung wilayah sasaran secara perlahan namun pasti.

Dalam catatan sejarah, Witarmin dikenal sebagai komandan yang tidak hanya memerintah dari balik meja. Ia kerap berada di garis depan, memantau pergerakan pasukan infanteri di tengah cuaca ekstrem dan medan yang mematikan. Di bawah kepemimpinannya, Operasi Trisula berhasil melumpuhkan tokoh-tokoh kunci seperti Oloan Hutapea dan Surachman dalam waktu relatif singkat, yakni sekitar tiga bulan.

Bagi masyarakat Blitar dan korps Infanteri, nama Witarmin adalah sinonim dari ketegasan dan loyalitas pada kedaulatan negara. Ia membuktikan bahwa operasi militer skala besar hanya bisa berhasil jika ada keselarasan antara komando pusat, intelejen yang tajam, dan dukungan penuh dari masyarakat lokal.

Hari ini, Monumen Trisula di Desa Bakung berdiri kokoh untuk mengenang peluh dan darah para prajurit. Namun, ruh dari keberanian Kolonel Inf. Witarmin tetap hidup dalam setiap jengkal tanah Blitar Selatan yang kini telah damai. Ia bukan hanya menumpas pemberontakan, ia mengembalikan kedaulatan di atas tanah yang sempat merah oleh ideologi yang bertentangan dengan Pancasila.

 

Sumber Referensi:

Untuk meninjau sejarah lengkap dan dokumentasi foto, kunjungi laman resmi Dinas Sejarah Angkatan Darat (DISJARAHAD).

Informasi mengenai Monumen Trisula dan destinasi sejarah terkait dapat diakses melalui portal Pemerintah Kabupaten Blitar.

Arsip militer mengenai Operasi Trisula dapat dipelajari lebih lanjut di Museum Dharma Wiratama Yogyakarta.

 

Sumber: Hj Hagia Sophia

Editor : Kanda Ali

More From Author

KARTINI BALI ‼️ Jejak Senyap I Gusti Ayu Rapeg Melawan Gelapnya Kebodohan di Tanah Dewata

Menkeu Purbaya Santai Hadapi Demo Ribuan Kades: “Biar Aja, Kebijakan Dana Desa Tak Berubah”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *