Mata Negeri.id
Seorang jurnalis mengalami aksi intimidasi dan perampasan ponsel saat meliput insiden bentrok antara warga dan anggota TNI di halaman kantor Bupati Aceh Utara, Kamis (25/12) siang. Salah seorang anggota TNI mendekati jurnalis, menangkap ponselnya secara paksa, dan meminta agar rekaman tindakan terhadap warga yang tercatat di dalamnya dihapus.
“Berdasarkan Sumber terpercaya yang di Identifikasi Media ini, “Setelah insiden, jurnalis tersebut mengaku merasakan ketakutan dan sedikit cedera di lengan akibat perampasan. Ponselnya akhirnya dikembalikan setelah rekaman sebagian dihapus, meskipun jurnalis berhasil menyimpan salinan rekaman lain di perangkat lain.
Bentrokan awalnya terjadi ketika ratusan warga menggelar aksi damai di halaman kantor bupati. Mereka membawa spanduk dan mengajukan beberapa tuntutan utama, antara lain meminta Presiden Prabowo Subianto agar segera menetapkan status bencana di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara sebagai bencana nasional. Selain itu, warga juga mendesak pemerintah untuk mempercepat bantuan logistik dan pembangunan infrastruktur pascabencana yang terkena dampak banjir bandang dan tanah longsor beberapa waktu lalu.
Ketegangan meningkat ketika beberapa anggota TNI mencoba membatasi gerakan warga, yang kemudian berujung pada bentrok ringan. Setelah insiden, Dandim 0103 Aceh Utara langsung memberikan penjelasan dan meminta maaf, jika ada anggotanya yang melakukan kesalahan dalam bertindak selama insiden tersebut. Beliau juga menjanjikan akan melakukan penyelidikan internal terhadap kasus tersebut.
Tim Redaksi


