Jakarta – Keputusan John Herdman untuk menerima tantangan membawa Timnas Indonesia menjuarai Piala AFF 2026 tanpa mengandalkan pemain naturalisasi yang berkarier di luar negeri dinilai sebagai langkah berani sekaligus berisiko. Meski Piala AFF hanya berada di level Asia Tenggara, hingga kini Timnas Garuda masih belum mampu mengakhiri penantian panjang untuk meraih gelar juara.
Pada undian grup, Indonesia tergabung di Grup A bersama Vietnam selaku juara bertahan. Tiga peserta lainnya adalah Singapura, Kamboja, serta satu tim hasil playoff antara Timor Leste atau Brunei Darussalam. Grup ini dinilai cukup kompetitif, terutama dengan kehadiran Vietnam yang selama satu dekade terakhir tampil konsisten di level ASEAN.
Piala AFF 2026 menjadi edisi istimewa karena menandai 30 tahun penyelenggaraan turnamen, sejak pertama kali digelar pada 1996. Turnamen dijadwalkan berlangsung pada 24 Juli hingga 26 Agustus 2026, periode yang relatif padat dengan agenda liga dan kompetisi internasional.
Sejumlah pengamat menilai Timnas Indonesia sebenarnya diuntungkan oleh jadwal tersebut. Pasalnya, sebagian pemain Indonesia yang berkarier di Eropa berpotensi dilepas klub karena tidak bersinggungan langsung dengan agenda FIFA Matchday utama. Namun demikian, John Herdman justru dikabarkan lebih condong memaksimalkan pemain yang tampil reguler di kompetisi domestik, khususnya BRI Super League musim berjalan.
Langkah ini memunculkan perdebatan. Di satu sisi, penggunaan pemain lokal dianggap memperkuat fondasi jangka panjang sepak bola nasional. Namun di sisi lain, absennya pemain naturalisasi abroad dinilai dapat mengurangi daya saing Timnas Indonesia, terutama saat menghadapi tim-tim yang telah matang secara taktik dan pengalaman internasional.
Pengamat sepak bola asal Malaysia, Raja Isa Raja Akram Syah, menilai peluang Timnas Indonesia tanpa pemain abroad cukup seimbang dengan tim-tim lain di Grup A.
> “Kalau Timnas Indonesia datang dengan pemain lokal sepenuhnya, menurut saya peluang ke semifinal itu 50:50. Vietnam, Singapura, dan Kamboja punya peluang yang sama. Namun untuk menjadi juara Piala AFF, Indonesia juga harus memperhitungkan kekuatan tim-tim dari Grup B seperti Thailand, Malaysia, dan bahkan Laos yang mulai berkembang,” ujarnya.
Piala AFF 2026 pun menjadi ujian awal bagi John Herdman dalam membuktikan filosofi kepelatihannya bersama Timnas Indonesia, sekaligus mengukur sejauh mana kualitas kompetisi domestik mampu menopang ambisi juara di level regional.
Penjelasan Lengkap dan Detail
1. Mengapa Keputusan Herdman Disebut Berani?
Karena:
Pemain naturalisasi abroad (yang bermain di Eropa) selama ini menjadi tulang punggung Timnas Indonesia.
Mereka unggul dari sisi tempo permainan, pengalaman internasional, dan disiplin taktik.
Mengabaikan mereka berarti Herdman mengambil risiko besar demi konsistensi skuad lokal.
2. Keuntungan Mengandalkan Pemain Super League
Pemain sudah terbiasa bermain bersama, chemistry lebih cepat terbentuk.
Kondisi fisik lebih terpantau karena berada di dalam negeri.
Memberi pesan kuat bahwa liga domestik adalah fondasi Timnas.
3. Risiko Besar yang Mengintai
Kualitas individu masih kalah dibanding Vietnam dan Thailand.
Tekanan mental di fase gugur sering menjadi titik lemah Indonesia.
Pengalaman laga krusial internasional masih minim.
4. Peluang Indonesia di Grup A
Vietnam: Ancaman utama, stabil dan disiplin.
Singapura: Kuat secara organisasi permainan.
Kamboja: Tidak bisa diremehkan, progres signifikan. ➡️ Peluang lolos semifinal: 50:50 (sesuai analisis Raja Isa).
5. Tantangan Lebih Berat di Fase Gugur
Jika lolos, Indonesia berpotensi bertemu:
Thailand (rekor juara terbanyak)
Malaysia (rival klasik dengan motivasi tinggi)
Tanpa pemain abroad, Indonesia harus mengandalkan:
Kedisiplinan taktik
Kolektivitas tim
Mental juara yang selama ini belum konsisten
Piala AFF 2026 bukan sekadar target juara bagi Timnas Indonesia, tetapi juga panggung pembuktian John Herdman. Apakah pendekatan berbasis pemain lokal mampu menghapus kutukan runner-up dan finalis, atau justru memperpanjang puasa gelar Garuda di Asia Tenggara.
Tim Redaksi


