Fase-fase Normalitas Hidup

Makassar, Mata Negeri Usia 30 tahunan adalah usia masa pengembangan maksimal potensi diri, masa pembentukan mental, menemukan jatidiri, masa kerja keras, banting tulang, berjuang pantang menyerah menentukan bentuk pencarian nafkah. Rumah tangga masih muda, anak 1-2 masih kecil dan lucu-lucu, usia 1- 5 tahunan.

 

Usia 40 tahunan adalah masa puncak produktivitas, masa puncak kejayaan duniawi. The golden age of life. Secara spiritual, ini adalah usia kritis untuk pembalikan arah hidup. Nabi Muhammad SAW diangkat jadi nabi dan menerima wahyu di usia 40 tahun. Secara psikologis, usia 40 tahun adalah simbol mulainya penyadaran dan perbaikan diri. Mulainya insyaf dari hidup dalam kubangan salah dan banyak pelanggaran agama. Dalam Islam, bila usia sudah menginjak 40 tahun tapi belum ada penyadaran diri (Sunda: babalik pikir), belum ada perubahan dan pembalikan arah hidup, belum mau taat beragama, kesananya akan sulit mengubah diri. Ujungnya kelak hanya penyesalan, kebiasaan-kebiasaan buruk yang terbentuk lama akan sulit diubah.

 

Usia 50 tahunan adalah masa pematangan diri dan pembentukan kedewasaan. Menikmati kestabilan material duniawi tahap kedua dalam standarnya masing-masing. Bagi para suami yang berbakat, punya potensi dan pemberani, usia poligami yang baik dianjurkan di usia 50-an karena sudah dalam fase matang, bukan fase emosional. Nafsu masih ada tapi tak lagi dominan. Rasulullah SAW menikahi Aisyah di usia 53 tahun, kemudian menikahi lagi yang lain. 50 tahunan adalah simbol kematangan diri. Di usia ini, banyak yang masih produktif tapi harus sudah terarah, tak lagi mengikuti nafsu yang tak terkendali, tak lagi mengejar kepuasan fisik: rumah, mobil da gaya hidup. Bila punya usaha dan bisnis sudah mulai dibagi-bagi ke anak-anak. Waktu dan pikiran tak lagi habis mengurus hal-hal teknis, tak lagi mengerjakan urusan yang menyita waktu dari tafakur, mulai banyak merenung tentang makna dan arah hidup, menyiapkan diri untuk kehidupan yang abadi menjelang usia 60.

 

Usia 60 tahun adalah mulai masa ketenangan, sudah tak mencari lagi dunia dan kesenangan fisik material. Tak lagi buang-buang waktu melakukan hal-hal yang tak bermanfaat bagi peningkatan kesadaran dan kualitas diri. Bila menulis, bukan lagi menulis akademik yang teknis duniawi, tapi menulis perenungan hidup untuk mencari makna. Bila punya usaha atau berdagang bagi orang-orang ekonomi kecil, hanya untuk mengisi waktu, ada gerak dan kegiatan, mencari nafkah secukupnya saja untuk bertahan hidup, bukan mencari lebih. Di usia ini, hidup harus sudah memasuki fase tenang dan damai menikmati hasil produktifitas usia 40-50an. Pintar dan cerdas harus sudah lewat menjadi arif dan bijak. Tak lagi ngotot, ingin menang, tak mau kalah, merasa benar sendiri. Semua orang benar menurut pikiran, pengetahuan dan wawasan masing-masing.

Usia 70 tahun ke atas adalah bonus. Sudah harus goodbye pada semua urusan dunia. Tak berdampak akhirat, jauhi. Hanya senang-senang fisik, makanan, suasana tak ada perenungan, tinggalkan . aktifitasnya hanya banyak berdzikir, shalat berjamaah rutin ke masjid bila masih kuat, jalan kaki untuk kesehatan. Berpikir hanya untuk menguatkan kebenaran, menulis hanya untuk berbagi nasehat, hidup sudah harus diurus dan diawasi oleh anak-anaknya.

Itu hanya kemestian dan keumuman, tentu tak berlaku pada setiap orang.***

 

Sumber : Hj Hagia Sophia

Editor : Kanda Ali

More From Author

Widodo Adi Sutjipto: Panglima TNI dari Lautan yang Menorehkan Sejarah Bangsa

Mengenang Laksamana R.E. Martadinata, KSAL Tegas yang Gugur dalam Tugas Negara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *