Maluku Utara — Kepemimpinan Sherly Tjoanda Laos dinilai menjadi bukti bahwa kehadiran perempuan dalam politik tidak hanya soal keterwakilan, tetapi juga kualitas kepemimpinan yang nyata dan terukur. Melalui pendekatan transformasional, manajerial, dan servant leadership, Sherly menghadirkan model kepemimpinan yang berorientasi pada kinerja serta keberpihakan kepada masyarakat.
Dalam praktiknya, kepemimpinan Sherly menekankan perbaikan sistem pemerintahan, penguatan pelayanan publik, serta pengambilan kebijakan berbasis data. Pendekatan tersebut melahirkan apa yang kerap disebut sebagai politik prestasi, yakni politik yang diukur melalui capaian kerja, efektivitas program, dan dampak langsung yang dirasakan oleh warga.
Di tengah kuatnya tradisi kepemimpinan daerah yang selama ini didominasi oleh figur maskulin, Sherly Tjoanda Laos dinilai mampu menghadirkan paradigma baru. Perubahan, menurutnya, tidak harus datang dari retorika atau suara yang lantang, melainkan melalui tata kelola yang dibenahi secara konsisten dan pelayanan publik yang semakin responsif.
Sejumlah pengamat menilai gaya kepemimpinan ini memperlihatkan bahwa integritas, ketepatan kebijakan, dan keberanian melakukan reformasi birokrasi menjadi kunci utama dalam membangun kepercayaan publik. Kehadiran pemimpin perempuan, dalam konteks ini, justru memperkaya perspektif dan memperkuat kualitas pengambilan keputusan.
Dengan model kepemimpinan yang berfokus pada hasil dan dampak, Sherly Tjoanda Laos dinilai telah memberikan contoh bahwa politik dapat dijalankan secara profesional, inklusif, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat luas.
Tim Redaksi


