Bogor | Mata Negeri — Nama Laksamana Raden Eddy Martadinata (R.E. Martadinata) tercatat dalam sejarah bangsa sebagai salah satu perwira tinggi TNI Angkatan Laut yang memiliki sikap tegas dan prinsip kuat dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sosok kelahiran 29 Maret 1921 ini wafat dalam tugas negara pada 6 Oktober 1966, dalam sebuah kecelakaan helikopter di kawasan Riung Gunung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
R.E. Martadinata menjabat sebagai Menteri Panglima Angkatan Laut atau Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) pada masa krusial bangsa, termasuk saat terjadinya peristiwa Gerakan 30 September (G30S) tahun 1965. Sebagai orang nomor satu di Angkatan Laut kala itu, ia dengan tegas mengecam dan mengutuk keras gerakan tersebut. Bahkan, R.E. Martadinata secara terbuka bersepakat dengan Angkatan Darat (AD) untuk menumpas G30S demi menjaga stabilitas dan keselamatan negara.
Sikap tegas tersebut, menurut sejumlah catatan sejarah, membuat langkah politik dan militernya tidak sejalan dengan Presiden Soekarno. Akibatnya, R.E. Martadinata kemudian dicopot dari jabatannya sebagai KSAL dan ditugaskan sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Pakistan.
Dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun ABRI ke-21, R.E. Martadinata kembali ke Tanah Air. Ia mendampingi tiga tamu dari Pakistan, yakni Kolonel Laut Maswar beserta istri, serta Nyonya Rouf, istri dari Deputi I Kepala Staf Angkatan Laut Pakistan.
Pada 6 Oktober 1966, rombongan tersebut melakukan perjalanan menggunakan helikopter Alouette II milik ALRI. Helikopter itu dipiloti oleh Letnan Laut Charles Willy Kairupan. Namun nahas, dalam perjalanan menuju kawasan pegunungan, helikopter mengalami insiden dan menabrak bukit di wilayah Riung Gunung, Bogor.
Kecelakaan tragis tersebut menewaskan seluruh penumpang dan awak helikopter, termasuk Laksamana R.E. Martadinata. Peristiwa itu menjadi duka mendalam bagi TNI Angkatan Laut dan bangsa Indonesia, karena kehilangan salah satu putra terbaiknya yang dikenal berintegritas, berani, dan setia pada prinsip NKRI.
Hingga kini, nama R.E. Martadinata tetap dikenang sebagai simbol keteguhan sikap seorang prajurit laut sejati. Bahkan, namanya diabadikan sebagai salah satu nama kapal perang kebanggaan Indonesia, KRI R.E. Martadinata, sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan pengabdiannya kepada negara.
Sumber: Hj. Hagia Sophia
Editor: Kanda Ali


