JAKARTA – Sejarah kemiliteran Indonesia tidak hanya dibangun di atas meja diplomasi, tetapi juga di atas tanah-tanah basah hutan belantara tempat nyawa dipertaruhkan demi tegaknya kedaulatan. Hari ini, kita kembali mengenang dua fragmen kepahlawanan yang jarang terungkap ke permukaan: Kisah pengorbanan tanpa pamrih Mayor (Mar) Sugeng di palagan pertempuran, dan strategi dingin Laksamana Urip Santoso dalam operasi klandestin yang menentukan.
MAYOR SUGENG MENEMBUS HUJAN PELURU DEMI SAUDARA DI KOPASSUS
Lembah itu begitu sunyi sebelum berubah menjadi neraka. Di tengah kepungan musuh yang rapat, satu unit Kopassus terjepit di titik kritis dengan stok amunisi mereka menipis. Di sinilah nama Mayor Sugeng, seorang perwira Korps Marinir, terpatri dalam sejarah.
Bagi Mayor Sugeng, loyalitas tidak mengenal warna baret. Mengetahui rekan-rekan Kopassus dalam bahaya besar, ia memimpin misi logistik darurat yang mustahil. Dengan memanggul peti-peti amunisi di bawah rentetan tembakan senapan otomatis dan mortir, Mayor Sugeng menerjang zona pembunuhan (killing zone).
Saksi mata menyebutkan bahwa ia terus merangkak maju meski peluru musuh mulai mengoyak tubuhnya. Dalam napas terakhirnya, ia berhasil memastikan kotak-kotak peluru itu sampai ke tangan personel Kopassus. Ia gugur di medan laga, mengorbankan nyawanya agar rekan-rekannya bisa terus menyalakkan senjata dan memenangkan pertempuran. Pengorbanannya adalah simbol tertinggi dari sinergi dan persaudaraan antar-matra TNI.
Laksamana Urip Santoso: Sang Arsitek Operasi Senyap
Jika Mayor Sugeng adalah simbol keberanian fisik di lapangan, maka Laksamana Madya TNI (Purn.) Urip Santoso adalah otak di balik layar yang menentukan jalannya sejarah melalui operasi klandestin. Dalam berbagai operasi intelijen maritim, terutama saat masa konfrontasi dan pembebasan Irian Barat, Urip Santoso memainkan peran krusial dalam menyusupkan pasukan ke wilayah lawan tanpa terdeteksi.
Salah satu momen paling dramatis adalah keterlibatannya dalam Operasi Klandestin yang melibatkan kapal-kapal selam dan kapal cepat TNI AL. Di bawah komandonya, operasi penyusupan dilakukan dengan tingkat kerahasiaan absolut. Laksamana Urip Santoso dikenal sebagai perwira yang mampu membaca arus laut dan celah radar musuh, memastikan ribuan pasukan pendarat bisa masuk ke jantung pertahanan lawan tanpa memicu alarm perang skala besar lebih awal.
Kepemimpinannya dalam organisasi seperti Komando Proyek 001 (KOPRO 001) menunjukkan bagaimana kekuatan maritim Indonesia pernah menjadi yang paling disegani di belahan bumi selatan.
Kisah Mayor Sugeng dan Laksamana Urip Santoso adalah dua sisi dari koin yang sama: Pengabdian. Yang satu menyerahkan raga di lumpur pertempuran, yang lain menyerahkan pikiran dalam senyapnya operasi rahasia.
Kita tidak hanya berhutang kemerdekaan pada mereka, tetapi juga berhutang untuk terus menceritakan keberanian ini kepada generasi mendatang. Sebab, bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah lupa pada mereka yang gugur saat fajar belum lagi menyingsing.
Sumber Referensi: Hj Hagia Sophia
Untuk mendalami lebih lanjut mengenai sejarah perjuangan prajurit TNI, Anda dapat mengakses arsip resmi melalui:
Pusat Sejarah TNI – Dokumentasi resmi sejarah perjuangan Tentara Nasional Indonesia.
Dinas Penerangan Korps Marinir – Catatan mengenai pahlawan-pahlawan Korps Baret Ungu.
Majalah Sedjarah Militer (Arsip Nasional RI) – Referensi mengenai operasi-operasi klandestin di era 1960-an.
Editor : Kanda Ali


